Resensi Novel: Di Bawah Lindungan Ka’bah

cover novel dibawah lindungan kabahNovel yang berjudul Di Bawah Lindungan Ka’bah merupakan novel karangan Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang lebih banyak dikenal dengan julukan HAMKA. HAMKA, selain menjadi seorang penulis, merupakan seorang ulama, sejarawan, politikus, dan juga sastrawan yang namanya cukup dikenal di tanah air. HAMKA pernah menjadi menteri agama yang membuat namanya sebagai politikus mencapai puncaknya.

Mengenai isi novel Di Bawah Lindungan Ka’bah, novel ini bercerita dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, yaitu tokoh bernama Saya. Selain tokoh Saya, terdapat beberapa tokoh lainnya yaitu Hamid, Shaleh, Syekh, Haji Ja’far, Rosna, Ibu, dan Zainab. Yang membuat novel ini cukup unik adalah bagaimana novel ini tidak menceritakan tentang Saya. Tokoh Saya dalam novel ternyata hanyalah sebagai narator bagi sang tokoh utama  yaitu Hamid.

Cerita bermula dengan penceritaan pengalaman tokoh Saya yang sedang menunaikan ibadah haji di Mekah. Saat datang di Mekah, tokoh Saya menumpang tinggal untuk sementara di rumah salah satu penduduk setempat. Nama pemilik rumah tersebut tidak disebutkan akan tetapi sering disebut dengan panggilan Syekh. Di rumah itu jugalah tokoh Saya bertemu dengan Hamid yang juga tinggal di rumah Syekh.

Hamid merupakan orang Indonesia juga seperti tokoh Saya namun Hamid sudah lama menetap di Mekah. Awalnya Hamid tidak mengungkapkan alasannya kenapa meninggalkan tanah air akan tetapi kemudian tokoh saya menemukan bahwa Hamid ingin melarikan diri dari orang-orang terdekatnya selama di Indonesia. Setelah semakin akrab satu sama lain, Hamid pun akhirnya bercerita tentang asal-usulnya kepada tokoh Saya.

Kepada tokoh Saya, Hamid mengatakan bahwa hidupnya semasa kecil sangatlah menderita. Dia sudah ditinggal meninggal ayahnya dan hanya hidup berdua dengan ibunya. Hamid kecil tidak bersekolah dan setiap hari membantu ibunya berjualan kue. Kemudian karena iba, keluarga Haji Ja’far bersedia menyekolahkan Hamid bersama dengan anak perempuannya yang bernama Zainab. Keduanya kemudian berteman akrab sampai mereka berdua tumbuh dewasa dan mulai merasa saling jatuh cinta.

Akan tetapi kemudian berbagai kejadian buruk terjadi pada Hamid mulai dari meninggalnya Haji Ja’far yang membiayai sekolahnya sekaligus ayah Zainab, kemudian ibunya juga meninggal. Sebelum meninggal, ibunya yang mengetahui perasaan Hamid terhadap Zainab melarang untuk meneruskan maksud hati Hamid.

film dibawah lindungan kabah

Kemudian Hamid dimintai tolong oleh ibu Zainab untuk membantunya membujuk Zainab untuk menikah dengan saudara sepupunya. Karena ingat pesan ibunya sendiri, Hamid mengiyakan permintaan ibu Zainab yang kemudian membuat Zainab sangat terpukul. Hamid yang juga terpukul kemudian memutuskan untuk merantau yang jauh sampai ke Mekah. Di sanalah dia mulai hidup menyendiri dan menekuni ilmu keagamaan sampai kemudian dia bertemu dengan tokoh Saya.

Tidak lama kemudian datang seorang tokoh lagi yang bernama Saleh yang merupakan saudara dari tokoh Saya. Saleh juga menumpang di rumah Syekh selama menjalani ibadah haji. Dan ternyata Saleh merupakan suami dari Rosna yang adalah teman karib Zainab. Melalui Saleh, Hamid mengetahui kabar bahwa Zainab ternyata menolak perjodohan dengan saudara sepupunya dan meratapi kepergian Hamid.

Karena mengetahui hal tersebut, keinginan Hamid untuk pulang ke tanah air menjadi sangat besar. Akan tetapi kemudian Hamid jatuh sakit. Tidak lama, datang surat dari Rosna yang mengatakan bahwa kondisi Zainab memburuk dan meninggal. Tokoh Saya dan Saleh merahasiakan tentang hal ini dari Hamid karena takut akan memperburuk keadaan sakit Hamid. Akan tetapi, lama kelamaan Hamid tahu juga dan hal ini semakin membuatnya terpukul.

Akhirnya karena kondisinya semakin tidak membaik, Hamid yang melakukan ibadah haji dengan cara dibantu orang lain karena sudah tidak bisa berjalan sendiri mengucapkan doa agar dia bisa segera menyusul orang-orang yang disayanginya. Dan doanya pun dikabulkan. Hamid meninggal dan dimakamkan di Mekah. Sementara itu tokoh Saya dan Saleh pulang ke Indonesia.

Novel ini kental dengan unsur cerita yang menyedihkan dan mengharukan. Keseluruhan cerita sangat menarik untuk diikuti akan tetapi sayangnya penggunaan bahasa Melayu lama membuat novel ini mungkin sedikit susah untuk dipahami khususnya oleh anak-anak muda jaman sekarang.